by

14 Paguyuban Meriahkan Peringatan Hari Jadi Kolaka Utara ke-18 Tahun

KOLAKA UTARA, TRIBUNKOLUT.COM – Ada yang unik dalam momen upacara peringatan hari jadi Kabupaten Kolaka Utara ke-18 tahun kali ini.

Keunikan tersebut tampak dengan turut sertanya empat belas paguyuban yang terbentuk di Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) sebagai peserta upacara dengan menggunakan pakaian adat dan simbol-simbol entitas ke daerahan masing-masing.

Sebelum memasuki lapangan upacara, ke-14 kerukunan tersebut terlebih dulu melakukan pawai budaya diiringi pembacaan sinopsis oleh pemandu acara untuk memperkenalkan masing-masing paguyuban ke peserta upacara khusus tamu undangan yang hadir dari luar daerah Kolut.

Menurut Bupati Kolaka Utara, Drs. H. Nur Rahman Umar, MH pawai budaya yang digelar oleh beberapa paguyuban di Kolaka Utara dalam momen HUT Kolaka Utara ke-18 yang di Lapangan Aspirasi, Jumat (7/1/2022) merupakan simbol keragaman dan keanekaan masyarakat yang mendiami Kabupaten Kolaka Utara.

“Keragaman budaya yang ada ini merupakan suatu kekuatan yang besar untuk membangun Kolaka Utara. Tinggal Pemerintah Daerah harus membuat starategis dan kebijakan yang dapat mempersatukan keragaman budaya tersebut sehingga menjadi suatu kesatuan untuk membangun Kolaka Utara yang kita cintai ini.” terangnya kepada awak media.

Dan pemberdayaan lembaga-lembaga kemasyarakatan, lanjutnya, telah diatur dalam regulasi. Baik itu Undang-undang maupun Peraturan Pemerintah di bawa kontrol dan pembinaan Bakesbangpol.

Ke-14 paguyuban yang turut memeriahkan acara peringatan HUT Kolut ke-18 tahun adalah sebagai berikut.

1. Dewan Adat Patowonua (DAP)

Dewan Adat Patowonua. Foto: Tribunkolut.com

Organisasi Dewan Adat Patowonua (DAP) didirikan melalui musyawarah adat yang diikuti oleh tokoh-tokoh adat dan budaya dari 4 (empat) mokole wilayah Patowonua Kabupaten Kolaka
Utara pada tanggal 23 Oktober 2019 di Lasusua. Ke empat mokole tersebut adalah Rahambuu di Lelewawo, mokole
waworuo di Lanipa Majapahit, Mokole Watunohu di Watunohu, dan Mokole Kodeoha di Mala-mala.

Dewan Adat Patowonua (DAP) ditetapkan sebagai organisasi resmi di Kab. Kolaka Utara melalui surat keputusan Bupati Kolaka Utara, nomor
430/95/tahun 2020 tanggal 10 Juni 2020.

Tujuan utama didirikannya organisasi Dewan Adat Patowonua adalah untuk menjaga kelestarian nilai-nilai seni dan budaya daerah Patowonua Kabupaten Kolaka Utara.

2. Lembaga Adat Tolaki (LAT)

Lembaga Adat Tolaki

Lembaga Adat Tolaki (LAT) ini mengambil peran dan fungsi sebagai wadah pemersatu dan persatuan masyarakat Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara. Lembaga adat ini bertujuan menjaga, melindungi, dan melestarikan sejarah, adat istiadat, dan budaya masyarakat Suku Tolaki diseluruh wilayah negara kesatuan republik indonesia.

Dalam sejarah perjalanannya, lembaga adat ini telah mengalami tiga kali perubahan nama.

Didirikan di Kendari pada tahun 2000 dengan nama Lembaga Adat Sarano Tolaki (LAST) melalui musyawarah adat suku tolaki I di Unaaha. Tahun 2005 dalam musyawarah besar LAST yang ke-II di Kendari LAST berubah jadi Lembaga Adat Tolaki Konawe Mekong
gga (Latkom) dengan periode kepengurusan 2005-2010.

Dimasa periode inilah lembaga adat ini berhasi dibentuk di Kabupaten Kolaka Utara dan yang terpilih menjadi ketua adalah bapak Anton, SH.

Pada musyawarah besar Latkom ke-III pada tahun 2010 bertempat di Unaaha Kabupaten Konawe, Latkom berubah nama menjadi Lembaga Adat Tolaki (LAT) hingga saat ini.

3. Kerukunan Keluarga Wajo (KKW)

Kerukunan Keluarga Wajo (KKW)

KKW Kolaka Utara adalah wadah warga Kolaka Utara yang berdarah Wajo dan yang berasal dari Bumi Arung Matowa Wajo Sulsel.

 

Kerukunan Keluarga Wajo Kolaka Utara diketuai Andi Bau Padiawanti SH., Mkn dan Sekretaris Akmal Bintang, S.Ag.

KKW Kolaka Utara hidup bersama Warga lainnya di Kolaka Utara dengan tetap menjunjung tinggi falsafah hidup orang Wajo, “Mali siparappe’ Rebba si patokkong, Malilu sipakainge”

KKW Kolaka Utara dalam HUT Kab. Kolaka Utara yang ke-18 ini turut hadir mengambil bagian dalam defile dengan tema “Lipa Sabbe Pole Sengkang”.

Lipa sabbe atau sarung sutera dikembangkan oleh masyarakat Wajo sejak tahun 1670 an sebagai bagian budaya masyarakat Bugis Makassar

Masyarakat Wajo mengembangkan Sarung Sutera dengan berbagai Warna dan corak. Warna Merah melambangkan ketegasan, warna hijau melambangkan kebangsawanan, warna biru melambangkan ketenangan, warna kuning melambangkan kesejahteraan.

Berbagai Corak yang dikembangkan, Corak tettong, corak makkalu, corak Balo renni, Corak Balo lobang, Corak Cobo, Corak pucu, dll.

4. Kerukunan Keluarga Bone (KKB)

Kerukunan Keluarga Bone (KKB) Kolaka Utara.

Dimasa pemerintahan Raja Bone Ke XIII Lamaddaremmeng, cucu dari raja Bone
ke XI, La Tenriruwa, Sultan Adam, Mantinroe ri Bantaeng. Anak dari La Tenripale Raja Bone ke XII, Mantinroe Ri Tallo 1616-1631.

Raja Bone ke-13 ini ingin menghapus perbudakan dengan alasan int menegakkan syariat Islam ditentang oleh banyak kalangan termasuk ibunya sendin We Tenrisoloreng Datu Pattiro dan beberapa kerajaan tetangga. Namun, raja Bone tetap kukuh dalam pendiriannya.

Tahun 1644 Bone digempur Oleh kerajaan Gowa dibantu oleh negara sekutunya yaitu Wajo, Soppeng, dan Sidenreng. Atas peperangan itu Raja Bone ke-13 di tangkap dan ditawan di Gowa. Peristiwa itu biasa disebut Rumpa’na Bone yang pertama.

Sejak itulah rakyat Bone banyak hijrah ke tenggara (Kolaka) karena menolak diperbudak oleh kerajaan Gowa dan sekatunya dan diperbudak oleh Pemerintah Belanda.

Selanjutnya perlawanan DI/TTl di bawah pinpinan Kahar Musakkar dengan alasan keyakinan dalam memperjuangkan negara dan Agama. Terakhir banyaknya orang Bugis Bone yang datang ke Kolaka Utara dengan tujuan bertani dengan atasan tanah Kolaka Utara salah satu wilayah yang memiliki tanah yang subur dan makmur hingga sampai sekarang
orang bugis Bone cukup banyak di Kolaka Utara.

Sebagai wija tomappedeceng masyarakat Bone yang terangkum dalam kerukunan keluarga masyarakat Bone yang ada di Kolaka Utara. Yang di Nakhodai oleh Bapak Dokter Syarif Nur Ramly selalu siap bersama berkarya membangun bumi Patowonua ini dengan melepas semua bendera primordialisme menyatu dalam bingkal kesatuan keluarga besar masyarakat Kolaka Utara dengan prinsip Rebba sipatokkokng, Mali sparappe, Malilu sipakainge menuju Kolaka Utaraa Madani.

5. Kerukunan Keluarga Jawa (KKJ)

Kerukunan Keluarga Jawa (KKJ) Kolaka Utara.

Dalam rangka memeriahkan HUT Kabupaten Kolaka Utara ke-18. Kami KKJ, datang dengan motto selesaikan masalah dengan musyawarah, mufapakat dan semangat gotong royong ringan sama di jinjing berat sama di pikul dengan menjunjung tinggi pepatah lama “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”.

KKJ di usia yang ke 21 Tahun, dalam perjalanannya, banyak mengalami hambatan dan sandungan, namun dapat diatasi tak lepas atas bantuan bimbingan seorang tokoh panutan yang sangat kami hormati yakni Bapak Drs. H. Nur Rahman Umar MH, yang kala itu masih menjabat Kadis Pertambangan, kini beliau sebagai Bupati Kolaka Utara. Terima kasih kami haturkan, Bapak Bupati adalah orang tua kami masyarakat Kerukunan Keluarga Jawa.

6. Kombongan Sang Torayang (KST)

Kombongan Sang Torayang

KST Kabupaten Kolaka Utara lahir pada tanggal 8 Agustus 2020 melalui musyawarah besar di Hotel Utama. Mubes tersebut di buka langsung Bupati Kolaka Utara, Drs. H. Nur Rahman Umar, MH. Dengan semboyan “Misa Kada Dipotuo Pantan Kada Di Pomate. Sang Rodoan tin-ting Sang Tirimbakan Payo-Payo. Siangkaran Lang Kamasussan Sitiroan Lang Kameloan.

Jumlah keluarga Kombongan Sang Torayang di Kolaka Utara 48.575 jiwa yang tersebar di 15 kecamatan se Kabupaten Kolaka Utara.

7. Himpunan Keluarga Massenrenpulu

Himpunan Keluarga Massenrenpulu.

Enrekang tanah rigalla tanah riabbusungi nai ia tanah salama yang artinya suatu negeri yang keramat dan tanah yang dihormati.

Himpunan Keluarga Massenrenpulu (Hikma) merupakan paguyuban masyarakat enrekang yang berada di luar
Kabupaten Enrekang. Hikma sebagai organisasi memiliki tingkatan mulai dari DPP di Jakarta yang berdiri sejak tahun 1973, DPW di Provinsi dan DPC di kabupaten/kota termasuk DPC Hikma di Kabupaten Kolaka Utara yang berdiri sejak tahun 2007.

Warga hikma dimanapun berada senantiasa memegang teguh motto Tobana “tolong menolong dan bantu membantu dan nasehat menasehati”

8. Kerukunan Keluarga Selayar (Permas)

Kerukunan Keluarga Selayar (Permas)

Kami dari perwakilan keluarga besar masyarakat Selayar dengan motto “A’munte sibatu, A’bulo sipappak” yang artinya satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Maka dari itu, Kami siap menjaga hubungan baik dengan kerukunan yang ada di Kolaka Utara.

Siap bekerja sama dan mendukung progam Pemerintah Daerah Kolaka Utara menuju masyarakat Madani. Siap memegang teguh dan menjaga kehomatan organisasi kerukunan keluarga besar masyarakat Selayar.

9. Kerukunan Keluarga Bulukumba (KKB)

Kerukunan Keluarga Bulukumba (KKB)

Masyarakat bulukumba adalah perpaduan masyarakat suku bugis dan makassar konjo yang saat ini termasuk suku yang mendiami Kabupaten Kolaka Utara yang berasal dari Kabupaten Bulukumba Prov. Sulsel, jumlah penduduk masyarakat Bulukumba saat ini di Kolut diperkirakan berjumlah kurang lebih 15.000,000 jiwa yang tersebar di beberapa kecamatan di Kolut
dengan berbagai macam profesi pekerjaan, ada yang bekerja dipemerintahan sebagai PNS, TNI, Polri dan sebahagian bekerja sebagai petani dan wiraswasta.

Kerukunan masyarakat Bulukumba di Kolut saat ini dinakhodai oleh Iptu Adianto, SH sebagai ketua umum.

Masyarakat Bulukumba dikenal melalui industri budaya modern dalam bentuk perahu pinisi dengan prinsip hidup masyarakat bulukumba yaitu “mali siparappe, tallang sipahua” yang artinya ketika hanyut bersama sama kita ketepian, ketika tengggelam bersama sama kita kepermukaan, maka dari itu masyarakat Bulukumba di Kolut berkomitmen membantu dalam memajukan perekonomian Kolut dengan cara mendukung program-program
pemerintah daerah salah satunya dibidang pertanian yaitu revitalisasi kakao sehingga Kolaka Utara dapat kembali berjaya menjadi penghasil kakao.

10. Kerukunan Keluarga Soppeng

Kerukunan Keluarga Soppeng

Dalam catatan sejarah yang cukup panjang, bumi Latemmamala Soppeng dan bumi Patampanua Kolaka Utara adalah dua entitas yang tidak terpisahkan dalam membangun peradaban bangsa bahkan dunia sebagaimana falsafah hidup nenek moyang kita seorang pelaut “dimana bumi dipijak disitu langit djunjung”. KKS berpijak, bertumbuh, berkembang, menyatu, dan berkarya selamanya untuk bumi Patampanua.

11. Kerukunan Keluarga Sulawesi Barat

Kerukunan Keluarga Sulawesi Barat

Kerukunan Keluarga Sulawesi Barat (KKSB) Kabupaten Kolaka Utara adalah merupakan organisasi sosial kemasyarakatan yang menghimpun warga dari wilayah Provinsi Sulawesi Barat yakni dari Kabupaten Polewali Mandar, Mamasa, Majene, Mamuju, Mamuju Tengah, dan Pasangkayu yang telah tinggal bermukim di Kabupaten Kolaka Utara sejak tahun 70-an hingga saat ini.

Warga Kerukunan Keluarga Sulawesi Barat (KKSB) bertekad akan membangun dan memajukan Kabupaten Kolaka Utara diberbagai bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan dengan bersinergi antara Pemerintah Daerah dan seluruh komponen/lembaga masyarakat Kolaka Utara dalam bingkai “harmoni mala’biq, madani dan beradab”.

Kepengurusan KKST Kolaka Utara saat ini diketuai oleh bapak Drs. Abd. Latif Kanai, M.Si dengan satu semboyan pimpinan: “tarrare di allo, temmatindo di wongi, mappikirri atuwowanna pa’banua” artinya siang dan malam tidak pernah berhenti memikirkan kehidupan dan kepentingan masyarakat. “mesa kada dipotuo pantang kada dipomate “ artinya bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.

12. Kerukunan Keluarga Maros

Kerukunan Keluarga Maros

Kabupaten Maros sebagai salah satu daerah Otonom di Provinsi Sulawesi Selatan, dihuni oleh penduduk, yang heterogen, suku bugis dan Makassar yang paling dominan.

Letaknya yang berbatasan langsung dengan ibukota provinsi Sulawesi Selatan Makassarerupakan salah satu pemicu pesatnya pertumbuhan penduduk Kabupaten Maros. Seiring dengan hal tersebut sebagian penduduknya memilih merantau keluar daerah dan salah satu daerah tujuannya
adalah Kabupaten Kolaka Utara yang terkenal dengan keindahan dan kesuburan tanahnya serta melimpahnya sumber daya alam yang terkandung di dalamnya.

Masyarakat Maros senantiasa menjunjung tinggi filosofi SIRI’ NA PACCE atau SIRI SIBAWA PESSE. SIRI mengajarkan moralitas dalam bentuk nasihat kesusilan, pelarangan, hak dan kewajiban yang mendominasi tindakan manusia untuk melestarikan dan membela diri dan kehormatannya. Sedangkan PACCE/PESSE adalah mengajarkan solidaritas dan kepedulian sosial serta empati kepada sesama.

Prinsip inilah yang membuat perantau Maros mampu bertahan dan dihormati termasuk di Kolaka Utara ini.

Di hari ulang tahun Kolaka Utara yang ke 18 tahun 2022 ini kami masyarakat Maros menyatakan bahwa kami siap untuk mendukung program pemerintan dalam membangun Kolaka Utara tercinta ini.

13. Kerukunan Keluarga Makassar

Kerukunan Keluarga Makassar

Suku Makassar merupakan sebuah etnis yang berada dibagian pesisir selatan pulau Sulawesi. Arti Makassar dalam bahasa orang setempat disebut dengan mangkasara” yang berarti “mereka yang bersifat terbuka.

Etnis mangkasara tersebar mulai dari Kota Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Selayar, Maros, Pangkep bahkan makassar identik dan serumpun dengan suku bugis.

Sub-sub suku Makassar juga tersebar di beberapa daerah termasuk di Sulawesi Tenggara khususnya di Kolaka Utara
yang kuta cintai dengan segala kebhinekaan dan kemajemukan tanpa melihat perbedaan tetapi meharmonisasikan segala perbedaan sehingga tercipta kebersamaan visi dengan Pemerintah Daerah menuju masyarakat madani.

Sejak tahun 2013 lahirnya himpunan keluarga Makassar tak lain hanya sebagai wadah berhimpun dan nostalgia
diperantauan yang tentu tetap berbaur dengan semua etnis tanpa perbedaan dan bersinergi dengan pemerintah menuju kebangkitan ekonomi, masyarakat sejahtera dalam keberadaban.

“Manna ronro linoa, gesara butta maraeng, tu mangkasara abulo sibatang tonjo, accera silongka tongka tonji”

14. Ikatan Pemuda Luwu (IPL)

Ikatan Pemuda Luwu (IPL)

Ikatan Pemuda Luwu (IPL) turut serta memeriahkan peringatan HUT Kolut ke-18 dengan menggunakan pakaian adat dan simbol-simbol daerah.

Laporan: Astar