by

Kemenag Ingin Arah Kiblat di Kolut Diukur Ulang Menggunakan Alat Modern

KOLAKA UTARA, TRIBUNKOKUT.COM –Saat ini Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) telah memprogramkan pelurusan arah kiblat menggunakan alat yang lebih modern.

Hal ini dilakukan untuk memastikan posisi arah kiblat yang tepat, mengingat sebagian besar masjid di Kolut masih menggunakan arah kiblat lama yang berpatokan pada posisi matahari saat terbenam.

Pelurusan posisi arah kiblat tersebut menjadi polemik ditengah masyarakat, sebagian ada yang menolak tapi ada juga yang menanggapi persoalan ini sebagai hal yang biasa.

Menanggapi polemik itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kolaka Utara, H. Muhammad Kadir Azis, S.Ag.,M.Si menjelaskan, saat ini sebagian masjid di Kolaka Utara dan di berbagai daerah masih menentukan posisi arah kiblat berdasarkan arah terbenamnya matahari. Sehingga pada waktu terjadi pergeseran matahari, maka secara tidak langsung juga mempengaruhi posisi arah kiblat.

Salah satu masjid di Kolaka Utara yang arah kiblatnya berubah setelah di ukur ulang oleh pihak Kemenag. Foto: RH

“Pelurusan arah kiblat merupakan program Kemenag Kolaka Utara dan saat ini kami telah berkomunikasi dengan Pemkab Kolut. Harapan kami Pemkab bisah memberi penguatan kepada masyarakat agar semua masjid yang ada di Kolaka Utara dapat diukur ulang posisi arah kiblatnya menggunakan alat yang lebih modern,” jelasnya, Rabu (17/2/2021).

Lebih lanjut, Ia mengatakan, pergeseran posisi matahari dapat diamati antara pukul 13.00 atau14.00 WITA di awal, pertengahan, dan akhir tahun dari situ dapat diketahui perbedaan posisi matahari di tiga waktu tersebut.

“Sehingga masyarakat yang dulu membangun masjid menggunakan patokan posisi terbenamnya matahari di Barat sebagai arah kiblat, memiliki perbedaan arah kiblat yang membangun di awal tahun, tengah, dan akhir tahun,” tuturnya.

Oleh karena itu, agar masyarakat Kolut beribadah dengan posisi arah kiblat yang tepat. Maka, kami dari Kemenag ingin mengukur ulang arah kiblat dengan menggunakan alat yang lebih modern.

“Dengan menggunakan alat tersebut, posisi arah kiblat akan terdeteksi dengan baik dan tidak akan pernah bergeser meski posisi matahari itu bergeser,” bebernya.

Sebenarnya penentuan arah kiblat secara manual dengan melihat posisi arah matahari terang Kadir Azis, itu dibenarkan sebagai salah satu patokan penentuan arah kiblat.

Hanya saja, hal tersebut dapat digunakan ketika posisi matahari tepat berada di atas Kabba dan itu hanya bisa diketahui dengan menggunakan ilmu sains.

“Secara Astrologi, memang ada waktu-waktu tertentu, jam dan hari tertentu, posisi matahari tepat berada di atas kabba. Sehingga satu Minggu sebelum fenomena itu terjadi biasanya kami sudah menyampaikan kepada masyarakat yang hendak menentukan arah kiblat secara manual untuk menggunakan momen tersebut, tapi kejadian seperti ini hanya terjadi pada waktu tertentu tidak setiap hari,” bebernya.

Terkait masjid yang telah dibangun dengan mengikuti posisi terbenamnya matahari, yang menyebabkan posisi bangunan masjid tidak lagi searah dengan posisi saf shalat ketika dilakukan pelurusan arah kiblat, maka hal tersebut tidak usah dijadikan polemik.

“Tidak masalah posisi masjid kita mengarah kemana. Tidak perlu juga dibongkar yang penting posisi jamaah pada saat shalat itu tepat mengarah ke kiblat, sementara sesi-sesi acara yang lain misalnya ceramah atau khutbah biarlah tetap mengarah keposisi bangunan kiblat semula,” pungkasnya.

Kami dari Kemenag telah mendengar ada polemik-polemik yang muncul terkait posisi arah kiblat, olehnya itu kami menyampaikan bahwa kami bukan merubah arah kiblat tapi hanya meluruskan saja.

Dengan begitu, shalat yang kita lakukan tidak hanya berdasarkan nawaitu semata tapi juga berdasarkan arah kiblat yang tepat.

Laporan : RH