by

Menelisik Polemik Pergeseran Arah Kiblat di Kolaka Utara

TRIBUNKOLUT.COM, – Secara etimologi, kata kiblat berasal dari kata bahasa arab “qiblah” yang bermakna “arah”. Dalam konteks Islam istilah kiblat (qiblah) tidak hanya sekedar arah tapi istilah ini mengacu kepada arah khusus yang berhubungan ibadah khususnya shalat.

Jumhur ulama sepakat bahwa dalam keadaan normal, shalat hanya sah jika dilakukan menghadap kiblat terkecuali jika shalat dalam keadaan perang.

Tidak hanya shalat, hadits juga menyebutkan perlunya menghadap kiblat saat berirham dalam haji dan setelah melempar jumratul wustha.

Begitupun secara adab, kiblat menjadi arah wajah jenazah ketika di makamkan dan arah wajah hewan saat penyembelian.

Selain istilah qiblah juga dikenal istilah Ainul Ka’bah atau cara menghadap kiblat dengan tepat sehingga jika ditarik garis searah posisi depan orang tersebut, garis tersebut akan mengenai bangunan ka’bah. Hal ini dapat dilakukan dengan mudah di masjidil haram dan sekitarnya, tetapi untuk lokasi yang jauh dari Makka hal tersebut sangat sulit dilakukan.

Lantas bagaimana masyarakat di Indonesia khususnya di Kolaka Utara menentukan arah kiblat? Dulu, sebelum munculnya alat kompas atau alat moderen. Masyarakat yang hendak membangun masjid menggunakan cara tradisional dengan melihat arah terbenamnya matahari di Barat, masyarakat percaya jika arah terbenamnya matahari searah dengan posisi kiblat yakni masjidil haram.

Namun, seiring berjalannya waktu keakuratan posisi arah kiblat setiap masjid yang dulunya menggunakan metode tradisional mulai diragukan. Sehingga untuk memastikan kredibilitas arah kiblat tersebut, Kementerian Agama Kabupaten Kolaka Utara menjadikan pelurusan ulang arah kiblat menggunakan alat moderen sebagai salah satu program kerjanya.

Pada akhirnya, niat tulus Kemenag untuk mengukur ulang arah kiblat demi kenyamanan masyarakat dalam menjalankan ibadah dibeberapa masjid justru menuai polemik. Sebagian masyarakat menerima, namun tidak sekit pula yang menolak dengan bergai dalih.

Sebagai contoh, disalah satu desa di Kolaka Utara yang masjidnya telah diukur ulang arah kiblatnya oleh Kemenag justru mendapat penolakan dari kepala desa. Imbasnya, sebagian jamaah masjid yang sepakat dengan hasil pengukuran Kemenag beribadah dengan arah kiblat baru sementara yang pro kepala desa tetap shalat dengan arah kiblat lama.

Polemik juga terjadi di beberapa masjid lainnya, penolakan imam masjid untuk menggunakan arah kiblat hasil pengukuran Kemenag menyebabkan sebagian jamaah berpindah masjid ketika hendak melaksanakan shalat berjamaah.

Bahkan ada beberapa masjid direnopasi hanya untuk membetulkan arah kiblatnya.

Menurut hemat penulis, polemik ini muncul di akibatkan oleh dua faktor. Pertama, pemahaman dan tradisi masyarakat yang selama ini merasa nyaman berkiblat menggunakan arah kiblat lama, serta menganggap arah kiblat tersebut sudah benar meski menentukan arah kiblat saat itu menggunakan metode tradisional.

Kedua, mungkin sebagian masyarakat dan tokoh masyarakat menganggap jika perubahan arahan kiblat akan mempengaruhi struktur bangunan masjid, sehingga dibutuhkan anggaran banyak untuk melakukan renopasi ulang menyesuaikan arah kiblat baru.

Untuk itu, berdasarkan kejadian-kejadian di beberapa tempat tersebu. Maka, kami menyarankan agar pihak Kemenag melakukan sosialisasi terlebih dulu kepada masyarakat terkait substansi ibadah shalat dengan posisi arah kiblat yang tepat dan kurang tepat sebelum melakukan pengukuran arah kiblat.

Tentunya kita semua berharap dengan sosialisasi yang massif, tujuan mulia dari Kemenag Kolaka Utara dapat diterima sepenuhnya oleh masyarakat. Sehingga tidak menimbulkan polemik yang larut, apalagi sampai menimbulkan gesekan antara sesama jamaah masjid.

(Tasrim, S.Ag., M.Si)