by

Meninggal Gegara COVID-19, Keluarga Pasien Kecewa Atas Pelayanan Rumah Sakit

KOLAKA UTARA, TRIBUNKOLUT.COM – Keluarga ahmarhum Saing, warga Kelurahan Lapai, Kecamatan Ngapa, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) merasa kecewa kepada pihak Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Rumas Sakit Djafar Harun Lasusua, Kolut.

Perasaan kecewa pihak keluarga tersebut muncul setelah orang tua mereka divonis meninggal dunia akibat COVID-19, Selasa (27/7/2021) usai menjalani perawatan (isolasi) di Rumah Sakit Djafar Harun Lasusua selama 3 hari tanpa pemberitahuan lebih awal kepihak keluarga oleh pihak rumah sakit terkait penyakit COVID-19 yang diderita almarhum.

Menurut anak almarhum, Amin, sebelum di rujuk ke rumah sakit, bapaknya sempat menjalani perawatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Lapai, Kecamatan Ngapa.

“Sebelum di rujuk ke rumah sakit di Lasusua, Almarhum sempat menjalani perawatan di Puskesmas Lapai. Setelah itu, kalau tidak salah hari Sabtu (24/7/2021) dia di rujuk ke rumah sakit Lasusua karena menurut keterangan pihak puskesmas, bapak saya positif COVID-19, tapi hasil pastinya akan diketahui ketika hasil tes berikutnya di keluarkan rumah sakit di Lasusua,” kata Amin kepada Tribunkolut.com saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Rabu (28/7/2021).

Namun, lanjutnya, semenjak menjalani perawatan di rumah sakit Djafar Harun Lasusua. Pihak keluarga tidak pernah menerima informasi lanjutan terkait penyakit COVID-19 yang diderita almarhum. Informasi tersebut kami terima setelah orang tua kami meninggal.

“Waktu meninggal datanglah pihak rumah sakit menyampaikan ke saya. Maaf pak, karna orang tua kita ini positif COVID-19 jadi kita akan makamkan sesuai prosedur prokes COVID-19,” jelasnya.

Mendengar informasi tersebut bebernya, saya protes. Kenapa kami baru disampaikan sekarang? Kenapa tidak dari awal. Supaya kita bisa menjaga diri.

“Saya sampaikan ke dia, kami ini orang bodoh, tapi dimana-mana itu, kalau pasien yang positif COVID-19 maka yang bisa masuk ke dalam ruangan hanya perawat, tapi saya lihat orang yang membesuk bisa masuk ke ruangan orang tua kami dengan hanya pake masker tanpa dicegah oleh pihak rumah sakit,” tukasnya.

Sebenarnya, ucap Amin, kami bukan tidak terima orang tua kami divonis COVID-19. Hanya yang saya sesalkan kenapa tidak disampaikan lebih awal. Sementara hasil pemeriksaannya keluar hari Minggu, dua hari sebelum orang tua kami meninggal.

“Orang tua kami dirawat tiga hari tiga malam. Dia masuk hari Sabtu dan meninggal hari Selasa, setelah shalat subuh,” pungkasnya.

Tidak hanya kecewa, pihak keluarga almarhum menyatakan jika mereka tidak mau mengikuti aturan isolasi dan swab jika ada perintah dari pihak terkait karena mereka menganggap itu kelalaian pihak rumah sakit.

“Jadi kami agak keberatan sedikit, kalau semisalnya kami akan dijemput dan swab atau diperintahkan isolasi mandiri,” tutupnya.

Terpisah Kepala Puskesmas Lapai, Lisnawati, S.KM  membenarkan jika pasien atas nama Saing terkonfirmasi positif COVID-19 berdasarkan hasil pemeriksaan swab antigen di puskesmas yang dia pimpin.

“Iya berdasarkan hasil pemeriksaan, itu reaktif hasil antigennya. Kami di Puskesm ketika ada pasien masuk apalagi jika terindikasi mendekati gejalah COVID-19, maka kami adakan pemeriksaan antigen dan kalau hasilnya reaktif kami langsung rujuk ke rumah sakit,” teranganya

Lisna mengatakan jika itu prosedur penanganan COVID-19, setelah dirujuk maka sepenuhnya itu tanggung jawab pihak rumah sakit.

“Hasil swab antigen keakuratannya mencapai 95 %, beda kalau antibodi yang metode pemeriksaannya hanya mengambil darah dari pena. Selain itu, pasien sudah komordif atau rentang dengan penyakit karena usia yang sudah tua,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Djafar Harun Lasusua,  dr. Syarif Nur Ramli, Sp.OG, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp membantah jika pihaknya dituding tidak menginformasikan lebih awal penyakit COVID-19 yang diderita pasien.

“Kami sudah di beritahu, kalau pasien dirawat di ruang isolasi. Berarti kalau di rawat secara isolasi itu artinya mereka sudah di beri penjelasan dan kalau swab antigen positif maka hampir pasti swab PCR positif. PCR hanya memastikan dan mengetahui predikat CT Value saja,” kata dr. Syarif.

Selain itu, Pihak rumah sakit Djafar Harun juga telah melarang pembesuk keluar masuk, tapi mereka tetap memaksakan, dan tidak tertib.

Menanggapi pertanyaan pihak keluarga yang tidak ingin di isolasi atau swab jika ada gejalah.

“itu terserah mereka, kalau aturan riwayat kontak harus isolasi mandiri, yang bergejala langsung swab untuk melindungi mereka, keluarga, dan masyarakat yang lain. Tugas kami menyampaikan, kalau mereka tidak mau yah mau diapa. Biarlah kami fokus melindungi diri dan merawat orang-orang yang percaya dan membutuhkan kami,” pungkasnya.

Laporan: MRH