by

Pabrik Kakao Rampung, Pemkab Kolut Mulai Perkuat Kelembagaan Koperasi

KOLAKA UTARA, TRIBUNKOLUT.COM – Pembangunan pabrik kakao terbesara di Sulawesi Tenggara (Sultra) yang terletak di Desa Ponggiha, Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) dinyatakan rampung dan mulai beroperasi tahun ini.

Bangunan berukuran 18 x 22 Meter beserta pengadaan mesin pengolahan biji kakao ini mengahabiskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp. 3 Miliar.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kolut, Ismail Mustafa, ST, menjelaskan, realisasi program major projek korporasi kakao terintegrasi di tahun pertama telah selesai, mulai dari tahap identifikasi lokasi, proses pembangunan gedung pabrik, tempat pengeringan, tempat fermentasi kakao, gedung pembibitan, sampai gedung pusat pelatihan dan pengembangan kakao, telah rampung.

“Dan kemungkinan tahun ini pabrik tersebut sudah mulai beroperasi,” kata Ismail Mustafa, Kamis (8/4/2021).

Selanjutnya, terangnya, di tahun kedua ini kita akan mempersiapkan sumber daya manusia, memperkuat kelembagaan koperasi kakao, sosialisai keberadaan dan peran koperasi di setiap desa, serta kemungkinan melibatkan Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM) atau Kelompok Usaha Bersama (KUB), dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) sebagai perpanjangan tangan koperasi kakao ditingkat desa.

“Untuk penguatan dan peningkatan SDM tahun ini mulai kami godok agar tahun 2022 sudah bisa berjalan maksimal sehingga produksi pabrik dapat meningkat setiap tahunnya,” terangnya.

Menurut Ismail, peningkatan SDM dan penguatan kelembagaan koperasi sangat penting karena koperasi kakao merupakan motor penggerak yang akan mensuplai biji kakao dari petani ke pabrik sampai pada tahap penjualan hasil produksi.

“Pembelian biji kakao petani dilakukan oleh koperasi kakao yang tersebar di tiga zona yakni wilayah utara, tengah dan selatan. Biji tersebut kemudian disuplai ke pabrik untuk diolah menjadi coklat padat, coklat bubuk, dan biji permentasi,” bebernya.

Tidak hanya itu, koperasi kakao juga berperan sebagai eksportir biji kakao kerin hasil permentasi ke negara konsumen.

“Agar semuanya berjalan maksimal,¬† maka diperlukan penguatan mulai dari manajemen pengelolaan pabrik, penguatan kelembagaan koperasi, sosialisasi, dan membangun sinergitas dengan lembaga-lembaga ditingkat desa,” pungkasnya.

Laporan: RH