by

Peran Walata (Wasasi Wasabenggali, Larumbalangi dan Taseha) dalam Menewaskan Burung Kongga

(Foklor to Mekongga di Kolaka Suatu Kearifan Lokal Bagi Generasi Muda)

Di Wonua Unenapo, Wasasi Wasabenggali seorang saudagar dan petualang dari arah selatan yang telah lama bermukim di PuuHe,Epe melakukan ritual pertapaan. Dalam pertapaanya Ruh Wasasi berada dipuncak kolumba. Ia kedatangan orang asing dengan menggunakan Toloa (Sarung) yang terbang dari arah lahuene (langit). Orang asing tersebut terlihat samar karena cahaya kuning berdiri tegap membelakangi rumah serba kuning yang terbuat dari bambu. Setelah ritualnya selesai Wasasi mendengar bisikan gaib bahwa ada sekelompok orang asing tiba
dipuncak kolumba dengan Metete Nggare Osu (berjalan mengikuti lereng dan punggung bukit dari arah hutan belantara). Bisikan gaib itu juga menyampaikan diantaranya seorang perempuan berwajah sipit dan berkulit putih seperti siput sungai. Wasaasi termenung sejenak sembari berujar dalam hati. “Mungkin ini tanda kedatangan orang sakti yang dapat melepaskan belenggu ketakutan warga dari gangguan burung raksasa” Atas kepandaian dan kecakapan Wasasi, masyarakat mendudukkannya sebagai tetuah yang banyak membantu para Tonomotuo.

Untuk memastikan hasil pertapaannya Wasasi dengan kesaktiannya telah berada di puncak kolumba. Ditengah belantara yang gelap dan sunyi senyap, Wasasi membunyikan “wula bubu/otela” (bilahan nada perunggu berlapis emas). Dengan irama ritual penuh magis tampak sosok bayangan manusia menempus gelap berlahan menuju sumber bunyi. Kini Wasasi telah
yakin bahwa orang asing yang berdiri di hadapannya adalah orang yang sama dalam pertapaanya. Ia terkesimak dengan penampilannya yang menggunakan pakaian serba kuning. Dikepalanya terlilit kain kuning, baju dan celana selutut dihiasi dengan permata. Dengan menggunakan alas
kaki dari kulit dan kayu, orang asing itu berdiri tegap memegang sebilah pisau dan sarung menyerupai selendang terlilit dipinggangnya.Terjadi diaolog singkat Antara Waasai dengan orang tersebut. Orang asing memperkenalkan dirinya sebagai Larumbalangi (La Rumpa langi).
Setelahnya Wasasi pamit dan menghilang seketika.

Pada hari kejadian lainnya seorang menghadap kepada Wasasi. Orang tersebut dengan wajah ketakutan penuh cemas menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi di Anggalonya. Untuk yang kesekian kalinya penduduk yang sedang berladang lari ketakuatan dan bersembunyi menghindari Burung Raksasa (Kongga owose) yang mengitari pemukiman dan ladang. Untung saja kejadian yang baru terjadi tidak menelan korban manusia. Namun beberapa ekor sapi dan kerbau disambar dan terbang oleh sang pemangsa. Ini kejadian yang kerap terjadi di saat orang-orang akan istirahat dari berladang. Setelah orang itu pergi Wasasi kemudian memukul “tawa-tawa’ (gong) hingga terdengar ke7 penjuru negeri. Para Toonomotuo pun terkumpul. Wasasi menjelaskan maksud pertemuan dan menceritakan hasil pertapanannya beberapa saat yang lalu.Merekapun bermusyawah dan bersepakat untuk mendatangi orang asing dipuncak kolumba.

Malam hari yang telah ditentukan, Menggau wingi (tengah malam) Wasaasi beserta beberapa Tonomotuo menemui orang asing tersebut. Wasaasi kembali memainkan “wula bubu/otela. Tidak seberapa lama kabut tebal yang menyelimuti puncak kolumba menipis hingga terlihat Larumbalangi menjemput Wasasi dan mempersilahkan untuk masuk kedalam rumah. Alangkah takjubnya Wasasi dan Para Tonomotuo melihat singasana kecil terbuat dari bambu kuning
berhias deretan sarung yang tergantung serta pernak pernik lainnya. Bambu dengan ikatan rotan teranyaman rapi dihiasi pula logam kuningan mulai dari ukuran kecil hingga besar baik berbentuk bulat oval maupun pipih (Gong). Dinding rumah berlapis “raha salaka” (dinding perak) serta perhiasan lainnya. Wasaasi menceritakan kepada Larumbalangi bahwa lebih dari 7 (tujuh) purnama dan selusin musim panen, rakyat hampir kekurangan pangan. Ketakutan melanda kampung-kampung oleh ganggguan burung raksasa yang setiap saat dapat memangsa manusia dan ternak mereka. Orang-orang tidak berani untuk keluar rumah. Tidak ada lagi yang Mondau
(berladang), orang sudah tidak ada yang mencari ikan di sungai, rawa dan laut. Seluruhnya dilanda ketakutan dan hingga kini belum ada yang sanggup membunuh dan mengusir burung besar tersebut.

Setelah mendengar penjelasan Wasaasi, Larumbalangi bertanya. Sebesar apa burung pemangsa itu? Arah kedatangannya dari mana? Pada waktu waktu apa sang burung datang memangsa?. Wasaasi kemudian menjawab (yang kira-kira dalam bahasa Tolaki dialek Mekongga) ‘Tabea Inggomiu Sangia Ndudu’ yang artinya “Tebe,Permisi sang dewa besar dari langit). Burung itu
datangnya dari arah puncak gunung paling utara. Ketika terbang diatas pemukiman tidak kurang dari 5 jejeran rumah penduduk seperti torumo (mendung) tertutup awan. Sang pemangsa berputar mengitari O’napo ketika matahari ditengah bumi Tonga Oleo(tengah hari). Jika tidak
menemukan kerbau dan sapi, orang pun disambarnya lalu terbang pergi sebelum matahari terbenam. Kami menyebutnya Konggaaha dan penduduk dibagian utara menamainya Kondeeha (Kodeoha). Setelah berbicang-bicang Larumbalangi menyarankan untuk membunuh Konggaaha tersebut mengumpulkan kowuna (bambu besar) untuk membuatkan osungga (bambu runcing)
serta Jenis senjata yang dibutuhkan juga adalah karada kasai wulaa (Tombak dengan lilitan emas).

Beberapa hari kemudian Wasasi bersama toonomotuo dibantu penduduk kampung telah berada di Osu Mbegolua O’Napo Silea. Mereka telah menyiapkan segala peralatan dan bahan yang akan digunakan dalam pembinaskan konggaaha tersebut. Mereka telah membuat O Amba (ranjau). Ratusan bambu yang telah diruncing terpasang melingkari kurungan kayu. Puluhan orang pilihan telah bersembunyi di semak belukar masing masing memengang tawa tawa(gong), o’dimba(gendang kulit) dan lado-lado (pentungan kayu). Seorang pemuda pengembara menawarkan dirinya untuk dijadikan umpan. Pemuda Itu adalah Tasahe berasal dari O’Napo Loeha (Kolaka Timur). Larumbalangi menyatakan kepada Tasahea jika kita berhasil membinasakan
Kongggaaha saya akan menaikkan derajatmu menjadi seorang Anakia (bangsawan).

Ketika matahari ditengah bumi, Tasahea bergegas masuk kedalam kurungan. Wasaasi bersila membaca mantra setelahnya memberikan Karada kepada Taseha. Larumbalangi memanjat pohon yang telah ditebas, berdiri sambil memegang Keris saktinya. Dari puncak pohon Larumbalangi memberi kode untuk membunyikan alat yang sudah disiapkan. Suasana yang tadi hening berubah ramai. Bunyi bunyian terdengar seantaro rimba belantara. Dalam sekecap
Konggaaha dari arah puncak kolumba mengibaskan sayapnya menukik untuk mencengkram mangsanya. Tasahea didalam kurungan dengan gesit menghindar sambil menusukkan tombaknya ke dada sang pemangsa. Konggaaha terluka dan berusaha untuk mematok Tasahea. Saat itu juga Larumbalangi melompat dari pohon dan menusuk kepanggal leher burung itu
dengan kerisnya. Sayapnya yang mengibas begitu kuat terluka oleh bambu. Kegesitan burung itu mampu melepaskan diri dan terbang sambil mengeluarkan pekikian kesakitan. Sang pemangsa terbang mengitari kampung. Tubuhnya bersimbah darah dan akhirnya terjatuh ke sungai.

Setelah Terbunuhnya Konggaaha tersebut penduduk bersuka cita. Para Tonomotuo
mengumpulkan penduduk dan mengumumkan bahwa hal yang ditunggu-tunggu telah tiba. Kampung telah aman dari gangguan Konggaaha. Tidak lama dari terbunuhnya sang pemangsa. Muncul masalah, bangkai Konggaaha membusuk. Ulat-ulat bangkai dan bau menyengat mengganggu kampung hingga tidak sedikit dari penduduk terkena berbagai penyakit. Di puncak kolumba para Tonomotuo bertemu Larumbalangi menceritakan masalah baru. Larumbalangi memohon pertolongan kepada O’ombu Samena’ (yang disembah,abadi dan kekal sang pencipta). Hasil ritual Larumbalangi terbukti dengan terbentuknya awan hitam, hujan turun begitu deras dalam seminggu lamanya. Taklama kemudian banjir bandang terjadi. Kali kecil tempat jutuhnya Konggaha meluap dan menyapu seluruh bangkai hingga kelaut. Kali kecil menjadi daerah aliran sungai yang subur. Atas keberhasilan Larumbalangi Para Tonomotuo bersepakat dan mengukuhkan Larumbagangi sebagai pemimpin negeri. Para Puutobu dan Tonomotua mempersiapkan pengukuhan sang pemimpin negeri. Wasasi diamanahkan oleh para Tonomotuo untuk melakukan ritual mondotonao (upacara penyumpahan). Larumbalangi resmi kukuhkan sebagai pemimpin negeri. Wilayah Unenapo disepakati dengan nama Wonua Mekongga
(Kampung Me-Kongga : Negeri yang membunuh Konggaaha ). Larumbalangi dijunjung sebagai Sangia Ndudu sebahagian menyebutnya Sangia Aha. Wasasi Wasabenggali dinobatkan selaku
soro mbondu (juru bicara). Sedangkan Tasahea diangkat menjadi bangsawan dengan julukan Tamalaki (laki-laki pemberani).

Dengan dikukuhkannya Larumbalangi sebagai Pimpinan Negeri, maka Wonua Unenapo resmi menjadi wonua mekongga dan penduduknya menyebut dirinya To Mekongga yang dalam perkembangannya menjadi sebuah wilayah yang luas dan membentuk pemerintahan tersendiri. Beberapa penulis menyebut Anakia Mekongga Pertama adalah Larumbalangi sebagai Raja Mekongga pertama dengan sebutan Anakia Larumbangi dengan Gelar Sangia Ndudu (Penulis lainnya : Sangia Aha). Beberapa Toponimi sampai saat ini masih digunakan antara lain Pucak Gunung Mekongga, Wonua Mekongga, To Mekongga, Kampung LaMekongga, Sungai LaMekongga, Teluk Mekongga, Pemerintahan Tradisional Mekongga, Bokeo Mekongga, Onderafdeling Mekongga dan Perjuangan Rakyat Kolaka di Tanah Mekongga. Dalam Tradisi lisan
dan beberapa catatan resmi penamaan wilayah ini memiliki beberapa julukan seperti Wonua Unenapo, Wonua KonggaHa, Wonua Ngapa (kampung pelabuhan), Wonua Sorume (Negeri anggrek hutan), Wonua Wiku (kampung yang sungainya terdapat banyak moa/belut).

Penulis: Andi Adha Arsyad, Penghobi sejarah dan budaya lokal

Kisah ini dioleh dari berbagai sumber.